Pages

Senin, Oktober 23, 2017

Munculah, Kau Ku Lempar

MATAHARI mulai beranjak ke peraduan, ketika kami anak-anak kelas satu SMA tiba di Hutan Penggaron. Sebuah hutan kecil di Ungaran, Kabupaten Semarang. Satu persatu perlengkapan kemah, kami turunkan dari atas truk.
“Ayo cepat…..cepat….!!!,” teriak Arief sang ketua OSIS memberi aba-aba.
Kami memang harus bergegas, karena masih harus mendirikan tenda-tenda yang jumlahnya lumayan banyak. Belum lagi persiapan untuk kegiatan nanti malam, yang entah akan diisi acara apa.
Teman-teman bilang, biasanya para calon pecinta alam ini akan digojlok habis-habisan sampai jelek, oleh para senior.
“Ah…. persetan mereka mau mengerjai dengan cara apa, yang penting besok kita sudah resmi masuk menjadi anggota pecinta alam,” kata Rahmat, teman ku seangkatan.
Target kami pada hari itu memang bisa resmi masuk ekstrakurikuler pecinta alam di sekolah kami, yang kata banyak orang, cukup disegani di Kota Semarang.
Adzan Magrib terdengar dari arah desa, ketika hampir semua tenda sudah terpasang. Hanya tinggal satu tenda milik kelompok peserta putri yang belum berdiri.
Menjelang Isya, semua tenda sudah berdiri. Sementara sebagian panitia pria, terlihat mulai menyiapkan kayu-kayu untuk api unggun. Sebagian lagi, mendorong para newbie agar segera bersih-bersih diri, untuk acara makan malam.
“Ayo kumpul….kumpul…..kumpul !!!!,’’ teriak sang ketua, melalui megaphone.
Dari nada suaranya, muncul kesan mulai ada bentakan, bukan sekadar tegas seperti biasanya.
“This is it. Ya inilah saatnya. Saatnya mereka membuli kami, para yunior,” pikirku.
Tapi aku sudah siap. Fisik dan mentalku, memang sudah kusiapkan untuk kegiatan persami, alias perkemahan Sabtu Minggu ini. Segera ku beranjak menuju ke tanah lapang, dan menempatkan diri di dalam barisan.
Rupanya, dalam acara pertama itu, kami hanya diberi pengarahan-pengarahan tentang dasar-dasar menjadi seorang pecinta alam. Namanya saja pecinta alam, para senior itu memberi arahan agar kami menjaga ikut hutan, sekaligus keselamatan diri dan teman-teman.
Setelah bergantian memberikan ceramah, kami pun diminta menuju ke tenda masing-masing, untuk beristirahat.
“Wah...enak benar. Baru sampai, cuma disuruh mendirikan tenda, bersih-bersih, terus tidur,’’ kata Satrio, teman satu regu seorang.
Aku nyengir mendengar omongannya. Rupanya dia tidak sadar, bahwa harus mulai waspada. Seperti yang kudengar dari teman-teman yang sudah terlebih dulu menjadi pecinta alam, puncak acaranya biasanya digelar tengah malam hingga pagi.
Oh ya...Sebetulnya pengetahuanku tentang pecinta alam, bisa dikatakan sudah lebih dibanding rekan-rekan satu angkatan. Ini karena  aku sejak kelas dua SMP, sudah sering diajak kakak naik gunung. Kakak ku, Mbak Fitri ini memang punya hobi naik gunung. Dia juga anggota pecinta alam, di perguruan tinggi tempat dia jadi mahasiswa.
Karena itu, aku sudah lumayan akrab dengan dunia alam bebas ini. Karena itulah, ketika masuk SMA, aku memilih masuk ekstrakurikuler pecinta alam.
Karena itu pula, aku jadi susah tidur, walaupun para senior sudah menyuruh semua peserta masuk ke tenda. Waktu menunjukkan pukul 23.00, ketika tiba-tiba terdengar suara letusan-letusan beruntun dan ledakan-ledakan kecil.
Suasana seperti perang itu membuat kami terkejut. Apalagi kemudian para senior berteriak-teriak membangunkan kami sambil memukul-mukul panci. Beberapa teman tampak langsung berlari tanpa sepatu ke lapangan. Ada pula yang berlari terpincang-pincang, karena masih membetulkan tali sepatu.
Aku juga ikut berlari. Tapi karena sejak awal tidak mencopot sepatu dan jaket, aku tidak jadi serepot mereka.
“Ayo berbaris. Hai jangan lamban, ini genting. Cepat…...cepat…..,’’ teriak para senior itu.
Setelah berbaris per regu, kami diminta mulai berjalan satu persatu, sambil mencari jejak-jejak yang ditinggalkan panitia. Inilah ujian keberanian ku yang pertama.
Biasanya, setiap kali mendaki, selalu ada Kak Fitri di dekatku. Tapi kali ini aku harus berjalan sendiri di tengah kegelapan. Bayangan-bayangan horor mulai muncul di benakku. Walaupun sering naik gunung, pada dasarnya aku adalah seorang penakut, terutama pada hantu.   
Kali ini, aku harus cari akal untuk mengusir rasa takut itu. Bagaimana pun, ini adalah perang melawan hantu-hantu yang ada di benakku. Karena itulah, aku mencari akal untuk mengalahkan diri sendiri.
Sambil berjalan, kucari beberapa batu yang agak besar. Kuyakinkan diriku, kalau ada hantu atau siapapun yang muncul tiba-tiba, pasti bakal jadi sasaran lemparan.
Benar juga, sesampai di sebuah batu besar, tiba-tiba muncul putih-putih mirip pocong. Hatiku tambah kebat-kebit, karena sosok itu mengeluarkan suara mirip kuntilanak.
Dengan sekuat tenaga, kulemparkan batu ditanganku sambil berteriak mengumpat. “Anjing, setan, kuntilanak, minggat kau.”
“Waduh……….. Sakit……..,’’ teriak sosok itu.
Kali ini aku tambah terkejut, lantaran sadar bahwa sosok itu bukan hantu. Dia adalah senior yang memang diberi tugas untuk menakut-nakuti. Mungkin semula dia pikir, menyamar jadi hantu adalah tugas paling aman, karena yang melihat akan lari tunggang langgang, bukannya melemparkan batu sebesar buah jambu.
Sama seperti dia, hatiku pun menjadi kecut. Segera kuhampiri si pocong gadungan itu, sambil mengulurkan tangan.
“Kakak nggak apa-apa ? Maaf ya kak, saya tadi kaget dan reflek. Habisnya, kakak sukses jadi hantu,’’ kataku, sambil memapahnya ke tenda panitia. (Singa)

Jumat, Desember 16, 2016

Selamat Tahun Baru 2017

Download
 TAHUN baru 2017
  tinggal hitungan
  hari.
  
  Bagi yang
  belum punya
  kalender, nggak
  usah bingung dan
  repot.  

  Klik aja tautan ini
  dan dapatkan versi
  PDF nya. Kalender
  ini dibuat dalam 
  format kertas A4,
  sehingga mudah
  dicetak pakai
  printer biasa.



Selasa, Maret 08, 2016

Menikmati CLBK di Punggung Ungaran


Photo : Purwoko Sisinga Berkacamata
HAWA sejuk mulai terasa ketika memasuki kawasan Desa Kalisidi, Kecamatan Gunungpati, Minggu 6 Maret 2016 siang itu. Meski masih merupakan bagian dari Kota Metropolitan Semarang, tetapi suasana pedesaan benar-benar terasa.

Tujuan kami adalah sebuah kawasan wisata air terjun yang masih alami di desa itu. Setelah melalui menyusuri jalan beraspal ke arah selatan di punggung utara Gunung Ungaran, tibalah kami di gerbang kawasan itu.
Photo : Purwoko Sisinga Berkacamata

Sebuah tiang dengan papan nama bertuliskan “SELAMAT DATANG DI AIR TERJUN CURUG LAWE DESA KALISIDI” pun menyambut kami. Di dekat tempat itu terdapat tempat parkir sepeda motor yang dikelola oleh para relawan CLBK.

Lho.... kok CLBK ?

Photo : Purwoko Sisinga Berkacamata
Ya.... CLBK di sini bukan cinta lama bersemi kembali, tetapi Curug Lawe Benowo Kalisidi. Di kawasan itu memang terdapat dua air terjun utama, yaitu Benowo dan Lawe.

Dari tempat itulah, “tantangan” dimulai. Bagi para pegiat alam, perjalanan menuju ke air terjun Benowo bukan suatu hal yang sulit untuk ditempuh. Tetapi bagi orang yang tak pernah atau jarang melakukan perjalanan lintas alam atau hiking, rute yang dilalui memang lumayan berat.

Untuk menuju ke Curug Benowo, harus berjalan kaki sejauh lebih kurang 3 kilomenter. Adapun untuk menuju ke Curug Lawe, jarak yang ditempuh bisa bertambah sekitar 1,5 kilometer.
Photo : Purwoko Sisinga Berkacamata

Perjalanan dimulai dengan menyusuri atau lebih tepatnya disebut meniti tanggul saluran irigasi. Lebarnya rata-rata hanya 50 sentimeter. Beruntung di beberapa bagian diberi ruang cukup lebar bagi orang untuk menepi dan memberi kesempatan orang lain dari arah berlawanan untuk melintas.

Perjalanan meniti tanggul saluran irigasi itu cukup menantang, karena di satu sisinya terdapat tebing yang tinggi, sementara di sisi lainnya, terdapat jurang yang cukup dalam. Yang menarik, di sepanjang rute tersebut, kita juga melewati sebuah saluran air, sekaligus jembatan yang melintasi jurang. 

Tanpa saluran ini, air dari curug tak dapat dimanfaatkan maksimal karena bakal terbuang ke jurang. Selain itu, saluran irigasi di sepanjang punggung tebing itu, nampaknya juga berfungsi untuk mengurangi erosi dan kemungkinan longsor.

Ya.. kawasan itu memang merupakan daerah rawan longsor. Tanpa pengujian ilmiah pun, tanda-tanda pergerakan tanah itu sudah terlihat. Selain pepohonan dengan batang berkelak-kelok, juga adanya pohon besar yang tumbang melintang dan batu-batu besar.

Saluran itu juga dilengkapi sebuah bendung kecil, bernama Bendung Sidomble. Di papan nama tertulis bendung itu tertulis tahun pembuatan 1975. Debit maksimal bendung yang berlokasi di koordinat bujur 110.35866" dan lintang 07.15146" itu, maksimal 1,19 meter kubik per detik dan minimal 0,06 meter kubik per detik.

Walaupun tak terlalu besar, air dari sistem irigasi ya



ng merupakan bagian dari Kali Pangus tersebut, dapat mengairi lahan 715 hektare. Wah... hitung-hitungan air lageee. Tapi begitulah, air merupakan bagian penting dari kehidupan.

Demikian pula bagi petani setempat. Keberadaan bendung itu memang penting. Karena itulah warga berusaha untuk menjaga kawasan itu agar tetap hijau dan bersih. Beragam upaya yang mereka lakukan, termasuk menyediakan tempat-tempat sampah serta memasang papan imbauan untuk para wisatawan.

Tetapi jangan dikira, papan-papan imbauan itu berisi kalimat-kaliman ala birokrasi. Sebaliknya, tulisan-tulisan tersebut lebih menyentuh sisi kemanusiaan, seperti misalnya “We CLBK”. Disayangkan, tangan-tangan jahil tetap saja ada yang merambah tempat itu. Seperti pada papan nama bendung, yang dicoret dengan cat semprot.

Setelah beristirahat sejenak di bendung itu, perjalanan pun masih harus di lanjutkan sejauh 1,5 kilometer. Kali ini tak lagi meniti tanggul saluran, tetapi mendaki di lereng. Di beberapa tempat terdapat tanjakan terjal berbatu, di mana kita harus berhati-hati agar tak terjatuh.

Tetapi jangan khawatir tersesat. Karena di sepanjang jalan, warga dan sukarelawan CLBK sudah memasang banyak petunjuk arah, sekaligus perkiraan jarak hingga ke Curug Benowo.

Di beberapa tempat, pengunjung juga harus melalui jembatan kecil dari kayu, dengan model sangat sederhana. Untuk pegangannya pun, terbuat dari ranting-ranting yang disusun, sehingga menyatu dengan suasana hutan.

Bagi pengujung yang kelelahan, juga dapat mampir di warung-warung yang dibangun warga. Selain dapat menikmati teh atau kopi hangat, di tempat itu juga tersedia mie instan rebus dan gorengan. Walaupun sederhana, tetapi menu tersebut sungguh nikmat untuk disantap, di tengah hawa sejuk Gunung Ungaran.

Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan, tibalah di tempat yang dituju, yaitu air terjun Benowo. Pada musim hujan, air tak berhenti mengucur dari ketinggian puluhan meter.

Kesegaran air dan kesejukan udara di tempat itu, seakan mengobati rasa lelah akibat akibat perjalanan yang lumayan jauh. Sungguh sebuah anugrah Tuhan untuk Kota Semarang, yang ternyata masih memiliki tempat seindah ini. (Purwoko)

Kamis, Mei 28, 2015

Bumi, Planet Biru Rawan Bencana

JIKA dilihat dari angkasa luar, Bumi adalah sebuah planet biru yang kadang-kadang sebagian wilayahnya berselimut putih, berbeda dengan beberapa planet lain seperti Merkurius, Mars, Jupiter, dan Saturnus yang cenderung coklat.

Selama ini, Bumi pula yang diketahui sebagai satu-satunya “rumah” bagi planet spesies Homo Sapiens, yaitu kita, manusia. Berbagai eksplorasi memang telah dilakukan untuk mencari “rumah” lain. Tetapi belum ada satu pun yang meyakinkan kita untuk menjadikannya sebagai tempat tinggal baru.

Pada 1999, penduduk dunia mencapai lebih dari lima miliar manusia dan 2014 sudah meningkat menjadi lebih dari tujuh miliar jiwa. Setiap tahun, jumlah manusia di planet yang memiliki daratan seluas 148,940,540 Km2 ini juga akan bertambah.

Tetapi, sesungguhnya Bumi bukan merupakan yang 100 persen aman untuk dijadikan tempat tinggal. Bencana demi bencana, termasuk yang berskala besar terjadi dan merenggut jutaan jiwa manusia. Kita dapat membantu mereka dengan banyak cara, antara lain dengan menulis.

Berikut sekelumit materi tentang bencana dan jurnalistik. Untuk sekelumit pemahamanan tentang bencana, silakan download di sini. Untuk pemahaman tentang jurnalistik, silakan klik di sini. Semoga bermanfaat.

Senin, Mei 11, 2015

Akhir Pekan Kelabu, Pedagang pun Menangis

  •  Pasar Johar Terbakar

SABTU malam tanggal 9 Mei 2015 benar-benar merupakan akhir pekan kelabu bagi warga Kota Semarang. Pasar Johar yang pernah menjadi Shopping Mall terbesar di Asia Tenggara terbakar.

Akibat musibah itu, kerugian pun tak terkira. Banyak pedagang yang baru saja menambah stok untuk persiapan menghadapi Ramadan, harus gigit jari karena dagangan mereka musnah. Ada pula yang barang dagangannya selamat, tetapi baru saja dikulak oleh pedagang Johar dan belum dibayar.

Dampak kebakaran itu, sehari kemudian juga dirasakan ribuan warga Kota Semarang lainnya, terutama di kampung-kampung yang jauh dari pusat bencana. Harga barang kebutuhan dapur yang biasa mereka beli dari pedagang sayuran pun langsung naik. Para pedagang sayuran itu, biasanya memang kulak di Pasar Johar. Sehingga ketika musibah terjadi, mereka harus kulak di tempat lain dengan harga lebih mahal.

Menangis dan Mengais
Ketika menyempatkan datang Minggu 10 Mei 2015, saya masih mendapati beberapa ibu-ibu menangis setelah melihat kondisi terakhir pasar itu. Yang membuat saya trenyuh, di antara mereka ada pula seorang ibu dari Buyaran, Demak dan bukan pedagang Johar. 

Sutimah, nama ibu itu menuturkan sudah 50 tahun membuka usaha di desanya dan hampir setiap hari datang ke Pasar Johar untuk kulak. Dia mengaku sedih, karena Pasar Johar bukan sekadar tempat jual beli. Di tempat itu dia memiliki banyak sahabat sesama pedagang. Dia bisa membayangkan, betapa hancur perasaan para sahabatnya itu, melihat gantungan hidupnya ludes tanpa sisa.

Dalam pandangan mata, kehancuran itu memang terjadi secara merata dari depan sampai belakang. Bahkan ruko-ruko di Jalan Pedamaran di seberang jalan juga ikut terjilat api hingga menghitam dan kaca-kacanya pecah. Rupanya, api melompati jalan selebar lebih kurang delapan meter. Betapa dahsyat peristiwa itu.

Dalam ilmu pemadam kebakaran, semakin besar api memang akan membuat angin juga bertiup semakin besar. Sebaliknya, angin itu pula yang membuat api menjadi kian besar.

Di Jalan Pedamaran pula, terlihat para pedagang mengais barang-barang. Beberapa orang terlihat mengais kentang, di antara yang sudah hitam terpanggang. Kentang-kentang yang masih bisa diselamatkan itu, kemudian mereka masukkan ke dalam karung untuk dijual lagi ke tempat lain.

Terlihat pula seorang perempuan tua yang mengupas kentang hangus untuk kemudian dia makan. Entah bagaimana rasanya, tetapi saya yang termasuk penyuka kentang pun tak tega melihatnya.

Selain kentang, ada juga pedagang yang mengais kubis dan jahe. Barang-barang dagangan itu pun mereka masukkan karung untuk kemudian dibawa keluar dari lokasi itu.

Siang itu, tak ada tawa di Pasar Johar. Wajah-wajah suram terlihat di mana-mana, sesuram bangunan-bangunan yang baru saja terbakar. Ucapan syukur memang kadang-kadang masih terdengar. Tetapi tentu saja bukan mensyukuri musibah itu. Ucapan itu terlontar, setelah mengetahui kerabat dan sahabat mereka selamat. Hingga siang itu, memang tidak ada kabar ada korban jiwa dari peristiwa itu. Tetapi kebakaran Pasar Johar, bukan hanya mencederai kehidupan ekonomi jutaan orang, tetapi juga kehidupan sosial di tempat itu. -- Bersambung---(Purwoko Adi Seno)

Selasa, April 14, 2015

Menikmati Keindahan Pantai Jogan

DEBURAN ombak Samudra Indonesia, bagaikan riuh tepuk tangan alam yang menyambut kedatangan kami di kawasan pantai selatan Kabupaten Gunung Kidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, siang itu.

Segera kami mencari papan petunjuk arah bertuliskan “Pantai Jogan”. Setelah ketemu, segera mobil yang kami tumpangi berbelok ke kanan, masuk ke jalan sempit, menuju pantai yang belum terlalu populer tersebut.

Setiba di objek wisata milik warga itu, kelelahan setelah menempuh perjalanan sejak pagi dari Kota Semarang serasa terbayar. Meski sudah tiga kali datang ke tempat itu, deburan ombak itu tetap terdengar indah di telingaku.

Tanpa membuang waktu, aku bersama Punkie Dias istriku, adikku Diah Nurita, dan suaminya Edi Prasojo segera turun dari mobil. Mata kami bukan hanya disambut oleh ombak bergulung-gulung, tetapi juga air terjun yang langsung jatuh ke laut. Air terjun inilah yang menjadi salah satu keunggulan Pantai Jogan, dibanding pantai-pantai lain di kabupaten tersebut.

Beberapa pengunjung, terlihat memanfaatkan pemandangan itu untuk dijadikan latar foto. Sebagian nekat turun ke bawah, demi memperoleh gambar yang bagus. Ada pula pengunjung yang berdiri di karang, di atas jurang.


Bukit Gamping


Bagiku, semua keindahan itu bukan sekadar pemandangan yang pantas untuk dinikmati, tetapi dijadikan bahan perenungan akan kekuasaan Tuhan. Karena itulah, aku mencoba menuliskan pengalaman ini di Blog Aku Pingin Maju ini.

Seperti pantai-pantai lain di Gunung Kidul, di Jogan juga terdapat banyak karang dan bukit kapur. Bahkan, tempat yang kami injak saat itu, sebenarnya juga merupakan bukit kapur (gamping) dengan tebing yang terjal.

Menurut Wikipedia, keberadaan pegunungan kapur selatan tersebut, menandakan bahwa pada masa lalu, tempat itu merupakan dasar laut. Temuan-temuan fosil hewan laut purba, mendukung anggapan ini. Kawasan ini mulai menjadi daratan, akibat pengangkatan-pengangkatan tektonik dan proses vulkanik sejak zaman Miosen (Kala waktu geologi 23,03 juta - 5,332 juta tahun lalu).

Sebagai orang awam di bidang geologi, teori tersebut memang terasa muluk-muluk. Tetapi kita tentu masih ingat, tentang peristiwa memilukan, 27 Mei 2006 silam. Pagi itu, ketika sebagian penduduk baru mulai beraktivitas, sebuah gempa hebat melanda Daerah Istemewa Yogyakarta dan sebagian Jawa Tengah. Gempa berkekuatan 6,2 SR itu, mengakibatkan 6.234 orang tewas.

Menurut para ahli, gempa tersebut terjadi akibat pergerakan atau tumbukan lempeng Indoaustralia dan Euroasia. Pergerakan serupa, sebenarnya sudah terjadi sejak jutaan tahun silam, hingga perlahan-lahan mengangkat bagian selatan Pulau Jawa.

Bisa kita bayangkan, berapa juta kali gempa yang terjadi, untuk bisa mengubah dasar laut menjadi sebuah pegunungan kapur. Seandainya saat itu sudah banyak manusia, berapa yang menjadi korban. Sesungguhnya, manusia memang tidak ada apa-apanya dibandingkan kekuatan alam. (Purwoko)

Senin, April 13, 2015

Pasar Johar, The Biggest Shoping Mall of Indonesia

► Bermula dari PKL

Pasar Johar 1930
Sumber http://www.semarang.nl/

 DUA lajur Jalan KH Agus Salim yang masing-masing kurang dari 10 meter itu, semakin sempit oleh pedagang kaki lima (PKL) yang menggelar dasaran di tepinya. Lalu lalang calon pembeli, sering menyebabkan kendaraan yang lewat di jalan itu harus berjalan pelan atau bahkan berhenti sejenak. Demikian pula ketika ada becak mengangkut atau menurunkan penumpang.

Kepadatan arus lalu lintas, lalu-lalang orang, dan segala hiruk pikuk di kawasan itu, seakan-akan sudah menyatu dengan keberadaan Pasar Johar. Bukan hanya di tepi jalan. Pedagang juga menempati hampir di setiap emper toko di tempat itu. Mereka menjual aneka barang, termasuk jasa memperbaiki jam, kalender, hingga pernik-pernik peralatan rumah tangga.

Pasar Johar 1930
Sumber http://www.semarang.nl/
Di dalam pasar, tempat dasaran juga cukup padat. Bahkan di beberapa tempat, pengunjung kesulitan untuk berjalan cepat, ketika harus berpapasan dengan pengunjung lain.

Segala hiruk-pikuk itu pula yang aku dan istriku Punkie Diaz rasakan, ketika suatu hari mencari benang rajut di pasar tradisional tua itu. Dengan alasan kenyamanan dan rasa aman, biasanya pemilik halaman Diaz’s Croshet di FB itu enggan masuk ke pasar tradisional. Tetapi demi memburu benang, dia rela berputar-putar ke tempat itu, sambil sesekali bertanya pada pedagang lain.

Ketika untuk kesekian kali kami masuk ke tempat itu, saya akan berbagai artikel yang menggambarkan bahwa di tempat itu dulunya adalah sebuah alun-alun dan pusat pemerintahan Kabupaten Semarang.

Alun-alun
Dalam Bulletin Online Tata Ruang, Suwardjoko  P   Warpani menuliskan artikel yang cukup menarik mengenai alun-alun. Dengan mengambil pendapat Mardiono, 2009, dia menulis bahwa dalam peradaban Jawa, rumah  kediaman  penguasa  (keraton,  kabupaten)  selalu  dilengkapi dengan  lahan luas yang disebut alun-alun.

Alun-alun ini bukan sekadar tanah lapang, tetapi bahwa di dalam ruang kosong terdapat kehidupan. Untuk alun-alun di Kraton Yogyakarta misalnya, kehidupan itu dilambangkan dengan keberadaan pohon beringin.

Adapun di Kabupaten Semarang tempo dulu, kehidupan di alun-alun tersebut, kemungkinan digambarkan dengan pohon johar. Hal ini antara lain terlihat dalam foto yang dipublikasikan http://www.semarang.nl/.

Suasana di Pasar Johar pada tahun 1938-1942
Sumber : Wikipedia
Masih menurut Suwardjoko, alun-alun sejak zaman Majapahit sudah menjadi salah satu penanda bahwa tempat tersebut merupakan pusat kota. Tetapi alun-alun untuk keraton dengan kabupaten, memang ada perbedaan. Untuk alun-alun keraton alun-alun terletak pada depan dan belakang istana. Adapun untuk kebupaten, alun-alun hanya berada di depan rumah bupati.

Alun-alun selalu menjadi lambang kebesaran  dan  wibawa  penguasa. Walau demikian, tempat ini juga berfungsi ganda,  yakni sebagai ruang  terbuka  kota. Terbuka, dalam hal ini bermakna berada di luar ruang, sekaligus dapat dikunjungi oleh umum.

Karena merupakan ruang terbuka, sekaligus pusat kota, Alun-alun Kabupaten Semarang kala itu menjadi salah satu pusat keramaian. Hal itu antara lain tergambar dalam sebuah artikel di Suara Merdeka,  Senin, 7 Oktober 2002 silam. Judul artikel tersebut cukup menggelitik, yaitu “Cikal Bakal Pasar di Bawah Pohon Johar”.

Dalam tulisan tersebut digambarkan, sebagai sebuah alun-alun, di kawasan tersebut terdapat masjid dan pusat pemerintahan kabupaten Semarang. Itulah mengapa, sampai kini, wilayah di belakang Pasar Johar masih disebut sebagai Kanjengan. Kanjeng, berarti Kanjeng adalah gelar yang diberikan kepada orang yang berkedudukan tinggi di Jawa.

Sebagai pusat pemerintahan, di tempat itu juga terdapat penjara. Setiap sore, banyak warga yang menemui keluarganya di penjara itu. Sebelum pintu penjara dibuka, mereka menunggu di alun-alun.

Seperti kata pepatah, ada gula ada semut, demikian pula kondisi saat itu. Warga yang hendak membesuk itu ibarat gula, bagi para PKL. Dari beberapa PKL yang menggelar dasaran di bawah pohon johar, tempat itu menjadi kian ramai. Hal itulah yang kemudian mendasari pembangunan Pasar Johar.

Kembali mengacu pada foto-foto http://www.semarang.nl/, tergambar bahwa pada 1930 para pedagang di tempat masih berupa PKL. Tetapi sembilan tahun kemudian (1939), di tempat itu sudah berdiri sebuah pasar megah. Bahkan pada saat itu, Johar disebut sebagai The Biggest Shoping Mall of Indonesia.

Pasar Johar yang merupakan karya arsitek Thomas Karsten tersebut, kini merupakan bangunan cagar budaya. Seperti ditulis seputarsemarang.com, rancangan pertama pasar ini dibuat pada 1933, oleh Thomas Karsten. Salah satu keunikan pasar ini, adalah adanya tiang-tiang penyangga tinggi persegi delapan, di mana di bagian atas menyerupai bentuk jamur. Pada bagian atas “jamur” ini, diletakkan atap beton dengan ventilasi di bawahnya. Dengan konstruksi semacam itu, pada zaman itu, udara di dalam pasar tetap terasa sejuk.

Disayangkan, dalam perkembangannya kemudian, beberapa bagian pasar ini ditambah, sehingga justru mengganggu. Seperti dinding tambahan di sekeliling pasar, yang menyebabkan ketidakserasian arsitektur dan sistem ventilasi menjadi kurang lancar. (Purwoko Adi Seno)