Pages

Selasa, April 14, 2015

Menikmati Keindahan Pantai Jogan

DEBURAN ombak Samudra Indonesia, bagaikan riuh tepuk tangan alam yang menyambut kedatangan kami di kawasan pantai selatan Kabupaten Gunung Kidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, siang itu.

Segera kami mencari papan petunjuk arah bertuliskan “Pantai Jogan”. Setelah ketemu, segera mobil yang kami tumpangi berbelok ke kanan, masuk ke jalan sempit, menuju pantai yang belum terlalu populer tersebut.

Setiba di objek wisata milik warga itu, kelelahan setelah menempuh perjalanan sejak pagi dari Kota Semarang serasa terbayar. Meski sudah tiga kali datang ke tempat itu, deburan ombak itu tetap terdengar indah di telingaku.

Tanpa membuang waktu, aku bersama Punkie Dias istriku, adikku Diah Nurita, dan suaminya Edi Prasojo segera turun dari mobil. Mata kami bukan hanya disambut oleh ombak bergulung-gulung, tetapi juga air terjun yang langsung jatuh ke laut. Air terjun inilah yang menjadi salah satu keunggulan Pantai Jogan, dibanding pantai-pantai lain di kabupaten tersebut.

Beberapa pengunjung, terlihat memanfaatkan pemandangan itu untuk dijadikan latar foto. Sebagian nekat turun ke bawah, demi memperoleh gambar yang bagus. Ada pula pengunjung yang berdiri di karang, di atas jurang.


Bukit Gamping


Bagiku, semua keindahan itu bukan sekadar pemandangan yang pantas untuk dinikmati, tetapi dijadikan bahan perenungan akan kekuasaan Tuhan. Karena itulah, aku mencoba menuliskan pengalaman ini di Blog Aku Pingin Maju ini.

Seperti pantai-pantai lain di Gunung Kidul, di Jogan juga terdapat banyak karang dan bukit kapur. Bahkan, tempat yang kami injak saat itu, sebenarnya juga merupakan bukit kapur (gamping) dengan tebing yang terjal.

Menurut Wikipedia, keberadaan pegunungan kapur selatan tersebut, menandakan bahwa pada masa lalu, tempat itu merupakan dasar laut. Temuan-temuan fosil hewan laut purba, mendukung anggapan ini. Kawasan ini mulai menjadi daratan, akibat pengangkatan-pengangkatan tektonik dan proses vulkanik sejak zaman Miosen (Kala waktu geologi 23,03 juta - 5,332 juta tahun lalu).

Sebagai orang awam di bidang geologi, teori tersebut memang terasa muluk-muluk. Tetapi kita tentu masih ingat, tentang peristiwa memilukan, 27 Mei 2006 silam. Pagi itu, ketika sebagian penduduk baru mulai beraktivitas, sebuah gempa hebat melanda Daerah Istemewa Yogyakarta dan sebagian Jawa Tengah. Gempa berkekuatan 6,2 SR itu, mengakibatkan 6.234 orang tewas.

Menurut para ahli, gempa tersebut terjadi akibat pergerakan atau tumbukan lempeng Indoaustralia dan Euroasia. Pergerakan serupa, sebenarnya sudah terjadi sejak jutaan tahun silam, hingga perlahan-lahan mengangkat bagian selatan Pulau Jawa.

Bisa kita bayangkan, berapa juta kali gempa yang terjadi, untuk bisa mengubah dasar laut menjadi sebuah pegunungan kapur. Seandainya saat itu sudah banyak manusia, berapa yang menjadi korban. Sesungguhnya, manusia memang tidak ada apa-apanya dibandingkan kekuatan alam. (Purwoko)

Senin, April 13, 2015

Pasar Johar, The Biggest Shoping Mall of Indonesia

► Bermula dari PKL

Pasar Johar 1930
Sumber http://www.semarang.nl/

 DUA lajur Jalan KH Agus Salim yang masing-masing kurang dari 10 meter itu, semakin sempit oleh pedagang kaki lima (PKL) yang menggelar dasaran di tepinya. Lalu lalang calon pembeli, sering menyebabkan kendaraan yang lewat di jalan itu harus berjalan pelan atau bahkan berhenti sejenak. Demikian pula ketika ada becak mengangkut atau menurunkan penumpang.

Kepadatan arus lalu lintas, lalu-lalang orang, dan segala hiruk pikuk di kawasan itu, seakan-akan sudah menyatu dengan keberadaan Pasar Johar. Bukan hanya di tepi jalan. Pedagang juga menempati hampir di setiap emper toko di tempat itu. Mereka menjual aneka barang, termasuk jasa memperbaiki jam, kalender, hingga pernik-pernik peralatan rumah tangga.

Pasar Johar 1930
Sumber http://www.semarang.nl/
Di dalam pasar, tempat dasaran juga cukup padat. Bahkan di beberapa tempat, pengunjung kesulitan untuk berjalan cepat, ketika harus berpapasan dengan pengunjung lain.

Segala hiruk-pikuk itu pula yang aku dan istriku Punkie Diaz rasakan, ketika suatu hari mencari benang rajut di pasar tradisional tua itu. Dengan alasan kenyamanan dan rasa aman, biasanya pemilik halaman Diaz’s Croshet di FB itu enggan masuk ke pasar tradisional. Tetapi demi memburu benang, dia rela berputar-putar ke tempat itu, sambil sesekali bertanya pada pedagang lain.

Ketika untuk kesekian kali kami masuk ke tempat itu, saya akan berbagai artikel yang menggambarkan bahwa di tempat itu dulunya adalah sebuah alun-alun dan pusat pemerintahan Kabupaten Semarang.

Alun-alun
Dalam Bulletin Online Tata Ruang, Suwardjoko  P   Warpani menuliskan artikel yang cukup menarik mengenai alun-alun. Dengan mengambil pendapat Mardiono, 2009, dia menulis bahwa dalam peradaban Jawa, rumah  kediaman  penguasa  (keraton,  kabupaten)  selalu  dilengkapi dengan  lahan luas yang disebut alun-alun.

Alun-alun ini bukan sekadar tanah lapang, tetapi bahwa di dalam ruang kosong terdapat kehidupan. Untuk alun-alun di Kraton Yogyakarta misalnya, kehidupan itu dilambangkan dengan keberadaan pohon beringin.

Adapun di Kabupaten Semarang tempo dulu, kehidupan di alun-alun tersebut, kemungkinan digambarkan dengan pohon johar. Hal ini antara lain terlihat dalam foto yang dipublikasikan http://www.semarang.nl/.

Suasana di Pasar Johar pada tahun 1938-1942
Sumber : Wikipedia
Masih menurut Suwardjoko, alun-alun sejak zaman Majapahit sudah menjadi salah satu penanda bahwa tempat tersebut merupakan pusat kota. Tetapi alun-alun untuk keraton dengan kabupaten, memang ada perbedaan. Untuk alun-alun keraton alun-alun terletak pada depan dan belakang istana. Adapun untuk kebupaten, alun-alun hanya berada di depan rumah bupati.

Alun-alun selalu menjadi lambang kebesaran  dan  wibawa  penguasa. Walau demikian, tempat ini juga berfungsi ganda,  yakni sebagai ruang  terbuka  kota. Terbuka, dalam hal ini bermakna berada di luar ruang, sekaligus dapat dikunjungi oleh umum.

Karena merupakan ruang terbuka, sekaligus pusat kota, Alun-alun Kabupaten Semarang kala itu menjadi salah satu pusat keramaian. Hal itu antara lain tergambar dalam sebuah artikel di Suara Merdeka,  Senin, 7 Oktober 2002 silam. Judul artikel tersebut cukup menggelitik, yaitu “Cikal Bakal Pasar di Bawah Pohon Johar”.

Dalam tulisan tersebut digambarkan, sebagai sebuah alun-alun, di kawasan tersebut terdapat masjid dan pusat pemerintahan kabupaten Semarang. Itulah mengapa, sampai kini, wilayah di belakang Pasar Johar masih disebut sebagai Kanjengan. Kanjeng, berarti Kanjeng adalah gelar yang diberikan kepada orang yang berkedudukan tinggi di Jawa.

Sebagai pusat pemerintahan, di tempat itu juga terdapat penjara. Setiap sore, banyak warga yang menemui keluarganya di penjara itu. Sebelum pintu penjara dibuka, mereka menunggu di alun-alun.

Seperti kata pepatah, ada gula ada semut, demikian pula kondisi saat itu. Warga yang hendak membesuk itu ibarat gula, bagi para PKL. Dari beberapa PKL yang menggelar dasaran di bawah pohon johar, tempat itu menjadi kian ramai. Hal itulah yang kemudian mendasari pembangunan Pasar Johar.

Kembali mengacu pada foto-foto http://www.semarang.nl/, tergambar bahwa pada 1930 para pedagang di tempat masih berupa PKL. Tetapi sembilan tahun kemudian (1939), di tempat itu sudah berdiri sebuah pasar megah. Bahkan pada saat itu, Johar disebut sebagai The Biggest Shoping Mall of Indonesia.

Pasar Johar yang merupakan karya arsitek Thomas Karsten tersebut, kini merupakan bangunan cagar budaya. Seperti ditulis seputarsemarang.com, rancangan pertama pasar ini dibuat pada 1933, oleh Thomas Karsten. Salah satu keunikan pasar ini, adalah adanya tiang-tiang penyangga tinggi persegi delapan, di mana di bagian atas menyerupai bentuk jamur. Pada bagian atas “jamur” ini, diletakkan atap beton dengan ventilasi di bawahnya. Dengan konstruksi semacam itu, pada zaman itu, udara di dalam pasar tetap terasa sejuk.

Disayangkan, dalam perkembangannya kemudian, beberapa bagian pasar ini ditambah, sehingga justru mengganggu. Seperti dinding tambahan di sekeliling pasar, yang menyebabkan ketidakserasian arsitektur dan sistem ventilasi menjadi kurang lancar. (Purwoko Adi Seno)

Senin, April 06, 2015

Segenggam Nasihat dari Mantan Guru


Cerpen

HARI  belum terlalu siang, ketika tiga orang berseragam polisi mencegat para pengendara sepeda motor di sebuah jalan protokol di kota S. Satu per satu pengendara diminta menunjukkan surat-surat mereka. Beberapa pengendara lain yang tidak membawa surat lengkap, diminta datang ke pos, sekitar 50 meter dari lokasi itu.

Pak Ranu dan anak semata wayangnya, Rani yang kebetulan saat itu juga lewat di jalan itu, juga tak luput dari razia. Tapi celakanya, guru sebuah SMA negeri itu lupa membawa STNK. Dia baru ingat, surat kendaraan itu masih dibawa Sutinah, istrinya, yang kemarin menggunakan motor itu.

“Silakan bapak ke pos itu,” kata polisi yang memeriksanya.

Di tempat itu, tampak dua pelanggar menunggu mendapat surat tilang. Kaca gelap di pos tersebut, membuat Pak Ranu tak dapat melihat jelas petugas di dalamnya. Dia hanya mendegar ada seorang laki-laki yang dengan nada tinggi, ngotot meminta surat tilang. “Tilang saya saja. Saya tidak sudi menyuap polisi kayak kalian,” kata lelaki itu.

Beberapa saat kemudian, lelaki itu keluar dari pos sambil menggerutu. Tampak sekali dengan wajah memerah. “Polisi korup kok nggak ada habis-habisnya,” gerutunya.

Ketika tiba giliran Pak Ranu, dia menyuruh si anak yang masuk. Sama seperti lelaki sebelumnya, Rani juga marah-marah lantaran dimintai sejumlah uang sogokan. Pak Ranu tahu betul, anak perempuannya itu memang pemberani. Sejak kecil, dia memang telah mendidik Rani untuk berani menyuarakan kebenaran.

Tetapi polisi di dalam pos itu, nampaknya juga tak mau kalah. “Ayolah mbak. Dari pada mbak ikut sidang, lebih baik titip pada saya”.

Karena situasi makin memanas, akhirnya Pak Ranu pun ikut masuk. Tapi sesampai di dalam, betapa terkejutnya dia. Salah satu polisi di dalam pos itu adalah Budi, salah satu muridnya dulu. Ketika masih menjadi siswanya, Budi sebenarnya termasuk pandai. Nilainya selalu bagus dan selalu menjadi juara di kelasnya. Bahkan anak itu dulu selalu menjadi murid kesayannya, karena taat beribadah.

“Heh !!!! ..... Ternyata begitu kelakuan kamu sekarang. Dulu kamu saya didik untuk menjadi orang yang jujur dan taat aturan. Tapi sekarang, kamu malah menjadi orang yang brengsek dan suka memeras orang,” hardik Pak Ranu.

Mendapat hardikan seperti itu, Budi yang semula berkonsentrasi kepada Rani, langung menoleh. Saat itu mukanya langsung pucat, melihat Pak Ranu.

“Ma....maaf pak. Saya tidak tahu kalau mbak ini anak Pak Ranu. Kalau tahu, pasti sudah saya lepaskan,” sahut polisi itu.

Mendengar jawaban itu, Pak Ranu malah makin marah. Dengan nada bergetar, dia kembali berkata-kata. “Saya kecewa pada kamu. Saya malu. Saya malu, karena saya ternyata telah gagal mendidikmu”.

Setelah diam sejenak, dia pun melanjutkan kata-katanya. “Keberhasilan seseorang, bukan karena dia bisa mengumpulkan kekayaan yang banyak, tetapi bagaimana dia mempertanggungjawabkan kekayaannya itu di hadapan Tuhan. Selain itu, kamu kok tega memberi makan anak dan istrimu dengan uang haram.  Sekarang, cepat berikan surat tilang itu, biar kami bisa segera mengurusnya”.

Tanpa berkata-kata, polisi itu pun segera mengambil sebendel blanko tilang dan mengisinya. “Ini pak. Maafkan saya karena telah mengecewakan bapak,” kata Budi sambil menyerahkan surat itu.

Kata-kata itu keluar dari ketulusan hatinya. Peristiwa itu benar-benar membuat budi ingin mengakhiri semua kebobrokan itu. Dia berjanji tak ingin lagi menjadi polisi korup.

Dia malu, pada Pak Ranu yang dulu menjadi guru yang paling disayanginya. Dia malu, pada dirinya sendiri yang dulu menjadi anak yang rajin beribadah. Dan dia malu pada Tuhan, yang telah menegurnya melalui nasihat dari mantan gurunya itu.

Ketika Pak Ranu dan Rani hendak pergi meninggalkan tempat itu, buru-buru Budi keluar pos dan menyusulnya. Tanpa mempedulikan lagi seragam yang dia pakai, lelaki itu mengambil tangan mantan gurunya. “Pak, sekali lagi maafkan saya. Kemarahan dan nasihat bapak barusan telah menyadarkan saya,” katanya dengan terbata-bata. (*)

Rabu, April 01, 2015

Merajut Benang, Merenda Harapan

SUDAH hampir satu jam, simpul demi simpul dirajut oleh ibu beranak satu itu. Sesekali dia menghitung jumlah simpul yang telah dibuatnya. Tetapi ketika sudah mendekati akhir, tiba-tiba tanggannya berhenti.  Keningnya berkerut sambil kembali meneliti hasil karyanya.

“Aduh....... ternyata ada yang keliru. Wah..... harus mengulang lagi nih,” keluhnya.
Dengan hati berat, dibongkarnya lagi hasil pekerjaannya itu dan mulai diulanginya lagi dari awal. Tetapi, baru sebentar, diletakkannya benang dan hakpen. Sembari bangkit dari duduk, dikibas-kibaskannya tangannya.

“Capek...... capek...... capek......,” keluhnya

Merajut, bagi Punkie Widdi Astuti, bukan hanya hobi, tetapi juga menghasilkan. Dibanding aktivitas-aktivitas lain sebelumnya, merajut adalah yang paling lama dijalaninya. Keterampilannya merajut, dimulai sejak masih kecil.

Kala itu, dia belajar merajut dari sang nenek yang tinggal di dekat Stasiun Poncol Semarang. Tetapi kemudian, aktivitas itu berhenti selama bertahun-tahun, hingga suatu ketika diajak kembali oleh sahabatnya, Mona Hartono.

Sejak itu beragam karya dihasilkannya, mulai dari bros baju, ikat rambut, kopiah muslim, dompet, sampai tas dengan berbagai macam model. Merajut, kini bagaikan sebuah candu baginya. Karena itu pula, pekerjaan itu dia jalani setiap hari dengan harapan hasil karyanya bermanfaat.

“Hampir semua hasil rajutan saya, sudah dibeli orang. Mereka teman-teman saya, atau teman dari teman saya. Sebelum saya kirim ke pemesan, foto hasil karya saya selalu saya unggah ke Facebook,” kata pemilik halaman Diaz’s Croshet itu.

Menurut ibu dari Eduard Febriansyah itu, merajut bukan hanya melatih kesabaran, tetapi juga merenda harapan. Dia berharap, melalui kegiatan itu bukan hanya uang yang bisa didapatkan, tetapi juga persahabatan dan relasi.
“Dengan ikut beberapa komunitas rajut di Facebook, saya jadi makin banyak teman,” kata dia. (Purwoko Adi Seno)

Jadi PNS Atau Pengusaha


"SAYA seorang ibu rumah tangga. Suami saya bekerja di sebuah LSM. Pendapatan suami memang sudah sesuai UMR, tetapi tetap saja tidak cukup untuk menghidupi kami sekeluarga. Padahal anak saya baru satu orang dan masih berusia dua tahun. Bagaimana jika kelak anak saya sudah sekolah ? Dari mana saya harus mencari tambahan penghasilan."
Itulah keluh kesah seorang ibu muda. Dia saat ini telah memulai berusaha menambah penghasilan, tetapi usaha itu selalu ditentang orang tuanya yang menginginkannya menjadi pegawai negeri sipil (PNS).
Cahaya, nama ibu muda tersebut kini menghadapi sebuah dilema, antara menuruti kata orang tuanya untuk menjadi PNS atau terjun ke swasta. Kedua pilihan tersebut, tentu sama-sama berat.
Kehidupan PNS saat ini memang sangat menjanjikan kesejahteraan. Untuk seorang sarjana, PNS tersebut bisa memperoleh penghasilan jauh di atas karyawan pabrik. Belum lagi setiap tahun, hampir dapat dipastikan dia bukan hanya akan mendapat tunjangan hari raya sebesar satu kali gaji, tetapi juga gaji ke-13.
Bukan hanya itu, setiap PNS dan keluarganya juga memperoleh jaminan kesehatan melalui Askes. Pada instansi tertentu, mereka juga memperoleh tunjangan beras.
Setelah purnatugas, tidak semua kesejahteraan itu hilang. Pensiunan PNS, juga masih memperoleh penghasilan setiap bulan dan tetap mendapat jaminan Askes. Mereka juga masih mendapat semacam THR dan gaji ke-13.
Semua itu memang menjanjikan kesejahteraan, bahkan bagi PNS yang bekerja dengan pas-pasan sekalipun. Tak heran jika setiap kali lowongan CPNS dibuka, ribuan orang mendaftar untuk mengadu nasib.
Tetapi setelah menjadi PNS, tidak semua orang ternyata mau bekerja keras. Banyak yang hanya terjebak rutinitas dengan datang ke kantor, memindahkan data dari lembaran kertas ke komputer, istirahat, dan pulang. Sebuah pekerjaan yang sebebanarnya bisa dilakukan oleh teknologi.
Ada pula yang lebih banyak menunggu pekerjaan disodorkan. Setelah tiba di kantor, PNS tersebut hanya duduk, baca koran, dan kemudian ke kantin. PNS tersebut cenderung menunda pekerjaan atau bekerja secara lambat, karena lebih suka chatting di facebook, YM, atau BBM.
Bagi orang yang merasa dirinya pas-pasan dan tidak ingin maju, menjadi PNS mungkin memang merupakan pilihan yang baik. Berbagai “janji” kesejahteraan juga menyebabkan setiap kali ada pendaftaran CPNS, banyak orang berebut mendaftar. Akibatnya, persaingan pun menjadi sengit dan masuk menjadi PNS juga makin sulit.
Sektor Swasta
Dengan peluang yang semakin kecil, berebut menjadi PNS sebenarnya merupakan upaya yang tidak rasional. Lalu mengapa kita mencoba membuka mata untuk melihat peluang lain. Toh dunia selalu memberikan banyak pilihan untuk kita.
Salah satu peluang yang selalu terbuka adalah masuk ke sektor swasta. Memang kalau kita hanya menjadi buruh pabrik, segala harapan tentang kesejahteraan tersebut memang sulit terujud.
Sangat sedikit pengusaha, yang walaupun sudah dapat meraup keuntungan miliaran rupiah setiap bulan, tetapi mau memberikan gaji tinggi pada karyawannya. Ada pula pekerja di sektor swasta yang bisa kaya, karena dia bergerak di bidang marketing. Tetapi kalau sudah sukses di dunia marketing, mengapa tidak sekalian membuka usaha sendiri ?
Seorang sales marketing yang sukses, tentu adalah seorang pekerja keras dan memiliki jaringan luas. Kedua hal ini sebenarnya merupakan modal awal untuk menjadi pengusaha.
Seseorang yang tidak mempunyai modal sama sekali pun bisa menjadi pengusaha, kalau memiliki jaringan yang besar. Sebagai contoh adalah orang yang hanya pandai berbicara dan memberikan nasihat. Dengan jaringan yang dia miliki, orang tersebut bisa menjadi social entrepreneur atau motivator, dengan penghasilan jauh di atas PNS dengan eselon paling tinggi sekalipun. Nah... silakan pilih, jadi PNS atau pengusaha. (*)