Pages

Sabtu, Maret 10, 2012

Mencerahkan Kulit dengan Bengkuan

BANYAK  di antara kita tentu mengenal bengkuang atau bengkoang (Pachyrhizus erosus). Bagian yang kadang-kadang kita anggap sebagai buah, sebenarnya adalah umbi (cormus). Bagian ini sering kita jadikan bagian dari rujak dan asinan. Banyak juga yang menjadikan bengkuang sebagai masker untuk menyegarkan wajah dan memutihkan kulit. Tumbuhan yang berasal dari Amerika tropis ini, termasuk dalam suku polong-polongan atau Fabaceae. Di tempat asalnya, tumbuhan ini dikenal sebagai xicama atau j√≠cama.
Orang Jawa menyebutnya sebagai besusu (Wikipedia).

Manfaat bengkoang untuk mencerahkan kulit, ternyata bukan hanya mitos Hal ini dijelaskan oleh Mary Lupo MD, spesialis kulit bidang klinis di Tulane University School of Medicine. Bahan ini biasa ditemukan dalam masker, lulur, pelembab, dan lotion.

Dalam penelitian ‘’The Exploration of Whitening and Sun Screening Compounds in Bengkoang Roots (Pachyrhizus erosus)’’ oleh Endang Lukitaningsih dari Universitat Wurzburg, Jerman, disebutkan bahwa umbi ini mengandung vitamin C, flavonoid, dan saponin yang merupakan tabir surya alami untuk mencegah kulit rusak oleh radikal bebas. Zat fenolik di dalamnya juga efektif menghambat proses pembentukan melanin, sehingga pigmentasi akibat hormon, sinar matahari, dan bekas jerawat dapat dicegah dan dikurangi.

Kini manfaat bengkuang untuk memutihkan kulit dapat diperoleh tanpa harus bersusah payah, Cukup dengan memanfaatkan sabun alami dari bahan-bahan herbal, kulit anda bisa lebih putih dibanding sebelumnya. Dengan bahan herbal ini, kulit anda juga akan menjadi lebih sehat. Produk ini aman, karena tidak mengandung bahan kimia berbahaya. Bahkan sebelum diedarkan, sabun ini telah mendapatkan izin dari Depkes RI.

Jumat, Maret 02, 2012

Kita Menuju Kepunahan ?

Oleh Purwoko Adi Seno

“My ninth grade science teacher once told me...
that if you put a frog in boiling water, it'll jump out.
But if you put it in cold water and heat it up gradually,
it'll just sit there and slowly boil to death.”
“What's that, Harry? Your recipe for frog soup?”
“It's my recipe for disaster.”

(“Guru ilmu alam di kesembilan kelas saya pernah mengatakan, bahwa jika anda menaruh seekor katak dalam air mendidih, dia akan langsung melompat keluar. Tetapi jika Anda memasukkannya ke dalam air dingin dan kemudian dipanaskan secara bertahap, katak itu hanya akan duduk di sana dan perlahan mendidih sampai mati.”
“Apa itu, Harry? Resep untuk sup katak?”
“Ini resep saya untuk bencana.”)


ITULAH sebuah penggal percakapan pakar gunung api Dr Harry Dalton yang diperankan Pierce Brosnan dan Wali Kota Dante's Peak, Rachel Wando yang diperankan Linda Hamilton. Mereka bermain dalam film Dante's Peak.
Disadari atau tidak, resep bencana ala Pierce Brosnan tersebut, kini sedang terjadi di muka bumi. Bahkan celakanya, jika saat ini tak berupaya, kita tidak akan menjadi orang yang memasukkan katak ke dalam panci, melainkan kitalah yang akan menjadi si katak malang itu.
Tanda-tanda bahwa kita sedang menuju sebuah bencana besar, sebenarnya sudah mulai nampak saat ini. Berkali-kali, alam mempertontonkan perilaku tidak wajar. Angin puyuh bertubi-tubi menghantam berbagai wilayah di Pulau Jawa, Januari 2012 lalu adalah salah satunya.
Seperti diberitakan Kantor Berita Radio Nasional (KBRN) atau Radio Republik Indonesia (RRI) Minggu, 29 Januari 2012 lalu, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho menyebutkan bahwa telah terjadi peningkatan puting beliung akibat pemanasan global dan perubahan iklim.
Pemanasan global, menurut dia menyebabkan volume awan Cumulus Nimbus (awan penghasil hujan) juga meningkat. Awan tebal kehitaman inilah yang memproduksi angin puting beliung.
Bukti lain bahwa pemanasan global sedang terjadi dan banyak diteliti oleh para ahli, adalah pencairan es di kutub. Mungkin kita membayangkan bahwa pencairan itu berlangsung pelan, seperti ketika kita memasukkan es batu ke dalam teh.
Namun kenyataannya, peluruhan Beting Es Wilkins di Antartika, 28 Febuari 2008 lalu tidaklah seperti itu. Seperti dipublikasikan Antaranews.com (http://www.antaranews.com), Kamis, 27 Maret 2008, pulau es seluas 13.000 km persegi itu tiba-tiba pecah, dan 415 km persegi di antaranya masuk ke laut.
Volume es di kutub yang kian berkurang, jumlah air tawar yang masuk ke samudra juga meningkat. Hal itu mengakibatkan tingkat keasinan (salinitas) air laut juga berkurang.
Air laut yang makin tidak asin ini, menyebabkan arus laut juga berubah. Padahal arus tersebut membawa aliran air hangat ke wilayah yang lebih dingin, atau sebaliknya sehingga mempengaruhi cuaca di berbagai belahan dunia. Itu pula yang menyebabkan alam mempertontonkan perilaku yang tidak wajar, salah satunya salju yang turun di musim panas di Australia, Senin 20 Desember 2010 lalu.
Seperti dipublikasikan Kompas.com (http://sains.kompas.com/), saat itu matahari sedang berada di selatan katulistiwa. Karena itulah seharusnya benua Kanguru sedang mengalami musim panas. Namun pada cuaca yang seharusnya cerah itu, tiba-tiba berubah karena salju turun.
Dampak lain yang dirasakan oleh penduduk di negara-negara tropis, termasuk Indonesia adalah peningkatan permukaan air laut, hujan yang makin ekstrem, dan puting beliung yang kian sering terjadi.
Kenaikan permukaan air laut, bukan hanya menyebabkan pulau-pulau kecil tenggelam, tetapi juga membuat rob di wilayah pesisir makin tinggi dan sering terjadi.
Hujan yang makin ekstrem, dipadu dengan kerusakan lingkungan, menimbulkan banjir yang makin besar dan bisa mematikan. Hujan juga bisa memicu longsor, terutama di wilayah pegunungan dan perbukitan.
Rentetan peristiwa menuju ke kehancuran itu masih berlanjut. Berbagai bencana tersebut, bukan hanya mengancam secara langsung pada keselamatan manusia.
Banjir juga mengancam ketahanan pangan kita. Jika banjir melanda daerah-daerah pertanian, maka bisa jadi kita akan mengalami krisis pangan akibat banyak sawah yang gagal panen.
Dari sektor kelautan pun, pemanasan global mengancam sumber-sumber perikanan. Ketika atmosfer bumi menghangat, terumbu karang juga akan terpengaruh. Terumbu karang adalah spesies yang sangat sensitif terhadap perubahan suhu dan salinitas (keasinan). Apabila suhu naik 2 derajat saja, mereka akan mati.
Para ilmuwan telah memperkirakan, bahwa dalam 20 tahun mendatang, Great Barrier Reef akan kehilangan seluruh terumbu karang. Padahal, terumbu karang memiliki fungsi sangat penting dalam ekosistem laut, yakni sebagai tempat hidup ikan yang banyak dibutuhkan manusia dalam bidang pangan.
Selain bencana-bencana tersebut, pemanasan global juga memunculkan berbagai penyakit. Menurut data Organisasi Kesehatan dunia (WHO), seperti dipublikasikan Kompas.com (http://nasional.kompas.com/), Sabtu, 15 November 2008 lalu, bahwa telah muncul 30 penyakit baru.
Dalam berita itu, Staf Khusus Menteri Lingkungan Hidup, Amanda Katil Niode mengatakan peningkatan penyakit ini akibat temperatur bumi terus meningkat. Penyakit-penyakit tersebut, antara lain demam berdarah, kolera, diare, disusul virus ebola yang sangat mematikan.
Selain berbagai dampak tersebut, ada satu fakta mengerikan, yaitu bahwa pemanasan global ternyata mengalami percepatan. Seperti telah diketahui, pemanasan global menyebabkan es di kutub kian cepat mencair. Seperti dipublikasikan Okezone.com (http://techno.okezone.com), Kamis, 25 Agustus 2011 lalu, sebuah penelitian menggunakan model komputer terbaru yang dipimpin ilmuwan dari Department of Energy’s Lawrence Berkeley National Laboratory menemukan, pencairan es menyebabkan kawasan kutub bisa beralih fungsi dari penyimpan karbon menjadi sumber penghasil karbon dioksida. Karbon tersebut, sebelumnya tersimpan dalam bentuk beku. Namun akibat pemanasan global, karbon tersebut akan menguap kembali ke atmosfer.
Padahal, karbon merupakan salah satu gas yang bisa menyebabkan efek rumah kaca dan menyebabkan bumi menghangat. Demikian seterusnya, hingga seperti bola salju yang kian membesar ketika menggelinding turun.

Apa Itu ?
Lalu apakah sesungguhnya pemanasan global itu ? Wikipedia (http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global) menggambarkan, suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat selama seratus tahun terakhir.
Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) atau panel pemerintah untuk perubahan iklim menyebutkan, sejak 1990 hingga 2100 akan terjadi peningkatan suhu 1.1 °C hingga 6.4 °C.
IPCC menyimpulkan, sebagian besar peningkatan suhu global tersebut disebabkan peningkatan konsentrasi gas-gas rumah kaca. Kesimpulan dasar ini telah dikemukakan oleh setidak-tidaknya 30 badan ilmiah dan akademik, termasuk semua akademisi sains nasional dari negara-negara G8 (Perancis, Jerman, Italia, Jepang, Britania Raya, Amerika Serikat, Kanada, dan Rusia.)
Peningkatan suhu secara global ini, terjadi akibat efek rumah kaca dari gas-gas yang menghalangi pancaran balik panas dari bumi ke luar angkasa. Seperti diketahui, segala sumber energi di Bumi berasal dari Matahari. Sebagian besar energi tersebut berbentuk radiasi / pancaran gelombang pendek, termasuk cahaya tampak.
Ketika cahaya ini sampai ke permukaan Bumi, dia menjadi panas yang menghangatkan Bumi. Permukaan Bumi akan menyerap sebagian panas dan memantulkan kembali sisanya.
Sebagian dari panas ini berwujud radiasi infra merah gelombang panjang ke angkasa luar. Namun akibat terhalang gas-gas rumah kaca, sebagian panas terperangkap di atmosfer bumi dan menjaga bumi tetap hangat.
Dalam kondisi normal, keberadaan gas-gas rumah kaca, termasuk uap air, karbon dioksida, sulfur dioksida, dan metana sangat penting, untuk menjaga suhu bumi agar tetap pada rata-rata 15 °C.
Tanpa gas-gas seperti ini, bumi tidak bisa dihuni oleh manusia karena pada siang hari suhunya bisa mencapai lebih dari 33 °C dan malam hari -18 °C. Namun dalam beberapa tahun terakhir ini, di atmosfer telah terjadi peningkatan konsentrasi gas rumah kaca, sehingga menyebabkan bumi makin panas.
Hal itu antara lain terjadi akibat makin banyak pabrik-pabrik yang berdiri, demikian pula dengan jumlah kendaraan dan penggunaan tenaga listrik. Semua itu merupakan konsekuensi dari pertambahan penduduk dunia.
Pengaruh peningkatan gas CO2 di atmosfer, sebenarnya dikurangi jika di lingkungan kita banyak terdapat pohon. Seperti diketahui, proses fotosintesis pada tanaman memanfaatkan gas CO2 dan memproduksi oksigen.
Namun sayangnya, kebutuhan akan kayu dan lahan, menyebabkan pembalakan merebak. Hutan sering tidak dilihat sebagai penyangga kehidupan, melainkan lumbung-lumbung ekonomi yang bisa dikeruk semaksimal mungkin.
National Geographic Indonesia, Senin 31 Januari 2011 lalu memberikan sebuah gambaran menarik, yakni kesadaran publik, baik personal maupun organisasi mengenai pentingnya hutan telah meningkat. Namun ironisnya, angka penebangan hutan tropis, ternyata tidak menunjukkan penurunan.
Analisis FAO (Food and Agriculture Organization) menunjukkan kalau penebangan hutan hujan tropis naik sebanyak 8,5 persen pada periode 2000-2005. FAO memperhitungkan kurang lebih ada sekitar 10 juta hektare hutan tropis yang telah rusak secara permanen.
Dalam data. tertera bahwa Indonesia menyumbang 17 persen dalam deforestasi ini. Hampir 2 juta hektare areal hutan yang ditebangi dalam jangka lima tahun tersebut.
Hutan hujan tropis merupakan ekosistem yang amat penting karena berperan sebagai rumah bagi separuh dari spesies tumbuhan dan hewan di muka bumi. Ancaman bagi hutan hujan tropis artinya ancaman pula bagi keanekaragaman hayati di Bumi. Hutan juga membantu pemeliharaan iklim, dengan mengatur gas-gas pada atmosfer serta mempertahankan stabilitas siklus air.


Kembali ke Alam
Dengan semua kenyataan itu, adakah upaya yang bisa dilakukan oleh manusia. Upaya yang bisa kita lakukan ternyata cukup banyak, mulai dengan memanfaatkan lahan di sekitar rumah untuk tanaman.
Dalam skala lebih luas, gerakan penanaman pohon untuk menghijaukan daerah kritis juga perlu dilakukan. Gerakan ini, seharusnya tidak hanya menjadi acara seremonial. Tanaman yang telah ditanam, mestinya juga dirawat hingga tumbuh besar dan memberikan manfaat.
Selain penghijauan, upaya lain yang bisa dilakukan adalah memperkuat kemampuan angkutan umum massal. Dengan angkutan ini, seharusnya penggunaan kendaraan pribadi bisa dikurangi, sehingga gas-gas pencemar  yang dikeluarkan juga berkurang.
Upaya lain yang bisa dilakukan adalah menghemat penggunaan listrik. Semakin banyak kita menggunakan listrik, berarti semakin banyak pula arus yang harus diproduksi oleh pembangkit. Padahal, sebagian besar pembangkit listrik di Indonesia, masih menggunakan bahan bakar fosil berupa batu bara atau solar. Sehingga, semakin banyak listrik digunakan, semakin banyak pula pencemaran yang terjadi.
Pertanyaan selanjutnya, akankah kita hanya diam seperti katak yang direbus. Ataukah kita sudah harus melompat, walaupun air dalam panci belum terlalu panas. (Dari berbagai sumber)